BIMA, Sentralntb.id – 28 Februari Penetapan Ico Rahmawati (IR), Ketua PGRI Kabupaten Bima, sebagai tersangka oleh Subdit Tipidkor Ditreskrimsus Polda NTB, mengguncang dunia pendidikan di Kabupaten Bima.
Di balik kabar hukum itu, tersimpan gelombang emosi ribuan guru: antara rasa iba dan kelegaan yang tak lagi bisa disembunyikan.
Di sekolah-sekolah berdinding papan di pegunungan dan pesisir Bima, pembicaraan pagi ini bukan lagi soal kurikulum atau administrasi. Yang dibahas adalah nasib seorang pemimpin organisasi profesi yang kini harus berhadapan dengan proses hukum.
Iba untuk Sosok yang Pernah Dihormati, Sebagai pendidik, para guru mengaku tak mampu menanggalkan sisi kemanusiaan mereka. Sosok yang selama ini memimpin organisasi profesi terbesar di daerah itu, kini tampil dalam status tersangka.
“Kami ini guru, diajarkan untuk mengasihi. Secara pribadi, kami sedih melihat beliau dalam kondisi seperti ini. Bagaimanapun, beliau rekan sejawat yang pernah kami hormati,” ujar seorang guru senior di Kecamatan Donggo dengan mata berkaca-kaca.
Rasa iba itu nyata. Ada kehormatan yang runtuh, ada nama baik yang tercoreng. Namun, empati itu berbenturan dengan memori panjang yang selama ini dipendam dalam diam.
Sujud Syukur: Beban Bertahun-tahun Terlepas
Di sisi lain, suara yang lebih lantang terdengar: rasa lega.
Bagi guru-guru di pelosok yang setiap hari menembus hutan, menyeberangi sungai, dan bertahan dengan honor terbatas, penetapan tersangka ini dianggap sebagai jawaban atas doa-doa panjang mereka.
Helaan napas panjang terdengar di banyak sekolah.
Mereka bersyukur karena: Potensi pemotongan honor dihentikan. Uang yang diduga kerap tergerus berbagai dalih administrasi, kini tak lagi membayangi penghasilan mereka.
Intimidasi berakhir. Ancaman mutasi atau hambatan kenaikan pangkat bagi yang tak “patuh” disebut-sebut tak lagi menghantui.
Keadilan menunjukkan wajahnya. Penetapan tersangka ini dipandang sebagai bukti bahwa suara guru pelosok tidak lagi bisa diabaikan.
Seorang guru honorer di Ambalawi menggambarkan situasi ini dengan getir:
“Apakah kami kasihan? Iya. Tapi apakah kami lega? Sangat lega. Kami menangis karena sedih melihat nasib beliau. Tapi kami sujud syukur karena beban yang mencekik leher kami selama bertahun-tahun akhirnya terangkat.”
Titik Balik Dunia Pendidikan Bima?, Peristiwa ini bukan sekadar proses hukum terhadap seorang pejabat organisasi. Bagi banyak guru, ini adalah momentum pembersihan dan harapan baru.
Ironinya terasa tajam: seorang pemimpin yang seharusnya menjadi pelindung, justru diduga menjadi tekanan bagi mereka yang dipimpinnya.
Kini, guru-guru di Bima berdiri dengan perasaan campur aduk—memaafkan sebagai sesama manusia, namun tetap menuntut hukum berjalan tanpa pandang jabatan.
Di tanah Bima, hari ini bukan hanya tentang seorang tersangka. Ini tentang pesan yang lebih besar: keringat guru di pelosok adalah harga diri pendidikan. Dan siapa pun yang mencoba memerasnya, akan berhadapan dengan hukum—dan sejarah.,(01"Red).

COMMENTS